always remember...

visit my failed blog at widiasrah.multiply.com and my third blog at widiasrahblog.multiply.com

Jumat, 12 September 2008

Republik Maluku Selatan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Kenetralan sebagian atau keseluruhan artikel ini dipertentangkan.
Silakan melihat pembicaraan di halaman diskusi artikel ini.
 Artikel ini membutuhkan catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki.

 
Salah satu aktivis RMS yang beraksi di upacara Harganas 2007 ditangkap aparat

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda [1].Daftar isi [sembunyikan]
1 Sejarah
2 Pemimpin
3 Dukungan
4 RMS di Belanda
5 Kerusuhan
6 Referensi


[sunting]
Sejarah

Pada 25 April 1950 RMS diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda yang diantaranya adalah Chr. Soumokil bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.

Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.A Kawilarang.

Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah.

Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan, tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), melarikan diri ke Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.

RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang dimuat pada harian Algemeen Dagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta menguat. Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kini hubungan dengan Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS tidak menutup kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan utama adalah meraih kemerdekaan penuh [2].

[sunting]
Pemimpin

Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan Manusama dan kini Frans Tutuhatunewa.

Dr. Soumokil mengasingkan diri ke Pulau Seram. Ia ditangkap di Seram pada 2 Desember 1962, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer, dan dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 12 April 1966.

[sunting]
Dukungan

Mayoritas penduduk Maluku pada saat itu beragama Kristen, Namun dengan adanya budaya "PELA GANDONG", dapatlah dikatakan bahwa di Kepulauan Maluku, seluruh lapisan dan segenap Masyarakat Maluku bersatu secara kekeluargaan, baik ber-agama Kristen, Islam, maupun agama Hindu dan Budha, semuanya bersatu.Demikian saat itu RMS.[rujukan?] berbeda dengan sekarang, sudah banyak pendatang-pendatang baru dari daerah Sulawesi Selatan, Tengah, Tenggara, Jawa Madura maupun daerah lainnya di Indonesia. sehingga hanya sekelompok kecil lah masyarakat yang mempunyai hubungan keluarga dengan para pengungsi RMS di Belanda yang terus memberikan dukungan, sedangkan mayoritas masyarakat Maluku melihat peristiwa pemberontakan RMS sebagai masa lalu yang suram dan ancaman bagi perkembangan kedamaian dan keharmonisan serta upaya pemulihan setelah perisitiwa kerusuhan Ambon. ..........; Kalimat dalam tulisan ini belum sesua dengan yang sebenarnya, akan ditambahkan dalam waktu dekat ini

[sunting]
RMS di Belanda

Oleh karena kemerdekaan RMS yang di Proklamirkan oleh sebagian besar rakyat Maluku, pada tanggal 24 April 1950 di kota Ambon, ditentang oleh Pemerintah RI dibawah pimpinan Sukarno - Hatta, maka Pemerintah RI meng-ultimatum semua para aktifis RMS yang memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri kepadda pemerintah RI, sehingga semua aktifis RMS itu ditangkapi oleh Pasukan2 Militer yang dikirim dari Pulau Jawa.

Karena adanya penangkapan yang dilakukan oleh militer Pemerintah RI, maka para pimpinan teras RMS tersebut, ber-inisiatif untuk menghindar sementara ke Negeri Belanda, kepindahan para pimpinan RMS ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah Belanda pada saat itu. Dengan adanya kesediaan bantuan dari Pemerintah Belanda untuk mengangkut sebagian besar rakyat Maluku dengan biaya sepenuhnya dari Pemerintah Belanda, maka sebagian besar rakyat di Maluku, baik yang beragama kristen maupun yang beragama Islam dan agama lainnya, memilih dengan kehendaknya sendiri untuk pindah ke Negeri Belanda. Pada waktu itu, Ada lebih dari 15.000 rakyat Maluku yang memilih pindah ke negeri Belanda.

Pindahnya sebagian rakyat maluku ini, oleh Pemerintahan Sukarno - Hatta, diissukan sebagai "PENGUNGSIAN PARA PENDUKUNG RMS", lalu dengan dalih pemberontakan, pemerintah RI menangkapi para Menteri RMS dan para aktifisnya, lalu mereka dipanjarakan dan diadili oleh pengadilan militer RI, dengan hukuman berat bahkan dieksekusi Mati.

Di Belanda, Pemerintah RMS tetap menjalankan semua kebijakan Pemerintahan, seperti Sosial, Politik, Keamanan dan Luar Negeri. Komunikasi antara Pemerintah RMS di Belanda dengan para Menteri dan para Birokrat di Ambon berjalan lancar terkendali. Keadaan ini membuat pemerintahan Sukarno tkdak bisa berpangku tangan menyaksikan semua aktifitas rakyat Maluku, sehingga dikeluarkanlah perintah untuk menangkap seluruh pimpinan dengan semua jajarannya, sehingga pada akhirnya dinyatakanlah bahwa Pemerintah RMS yang berada di Belanda sebagai Pemerintah RMS dalam pengasingan Dengan bekal dokumentasi dan bukti perjuangan RMS, para pendukung RMS membentuk apa yang disebut Pemerintahan RMS di pengasingan.

Pemerintah Belanda mendukung kemerdekaan RMS, Namun di tahun 1978 terjadi peristiwa Wassenaar, dimana beberapa elemen pemerintahan RMS melakukan serangan kepada Pemerintah Belanda sebagai protes terhadap kebijakan Pemerintah Belanda. Oleh Press di Belanda dikatakanlah peristiwa itu sebagai teror yang dilakukan para aktifis RMS di Belanda. Ada yang mengatakan serangan ini disebabkan karena pemerintah Belanda menarik dukungan mereka terhadap RMS. Ada lagi yang menyatakan serangan teror ini dilakukan karena pendukung RMS frustasi, karena Belanda tidak dengan sepenuh hati memberikan dukungan sejak mula. Di antara kegiatan yang di lansir Press Belanda sabagai teror, adalah ketika di tahun 1978 kelompok RMS menyandera 70 warga sipil di gedung pemerintah Belanda di Assen - Wassenaar.

Selama tahun 70an, teror seperti ini dilakukan juga oleh beberapa kelompok sempalan RMS, seperti kelompok Komando Bunuh Diri Maluku Selatan yang dipercaya merupakan nama lain (atau setidaknya sekutu dekat) Pemuda Maluku Selatan Merdeka. Kelompok ini merebut sebuah kereta api dan menyandera 38 penumpangnya di tahun 1975. Ada juga kelompok sempalan yang tidak dikenal yang pada tahun 1977 menyandera 100 orang di sebuah sekolah dan di saat yang sama juga menyandera 50 orang di sebuah kereta api.

Sejak tahun 80an hingga sekarang aktivitas teror seperti itu tidak pernah dilakukan lagi.

[sunting]
Kerusuhan

Pada saat kerusuhan Ambon yang terjadi antara 1999-2004, RMS kembali mencoba memakai kesempatan untuk menggalang dukungan dengan upaya-upaya provokasi, dan bertindak dengan mengatas-namakan rakyat Maluku. Beberapa aktivis RMS telah ditangkap dan diadili atas tuduhan kegiatan-kegiatan teror yang dilakukan dalam masa itu, walaupun sampai sekarang tidak ada penjelasan resmi mengenai sebab dan aktor dibalik kerusuhan Ambon.

Pada tanggal 29 Juni 2007, beberapa elemen aktivis RMS berhasil menyusup masuk ke tengah upacara Hari Keluarga Nasional yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para pejabat dan tamu asing. Mereka menari tarian Cakalele seusai Gubernur Maluku menyampaikan sambutan. Para hadirin mengira tarian itu bagian dari upacara meskipun sebenarnya tidak ada dalam jadwal. Mulanya aparat membiarkan saja aksi ini, namun tiba-tiba para penari itu mengibarkan bendera RMS. Barulah aparat keamanan tersadar dan mengusir para penari keluar arena. Di luar arena para penari itu ditangkapi. Sebagian yang mencoba melarikan diri dipukuli untuk dilumpuhkan oleh aparat. Pada saat ini (30 Juni 2007) insiden ini sedang diselidiki. Beberapa hasil investigasi menunjukkan bahwa RMS masih eksis dan mempunyai Presiden Transisi bernama Simon Saiya. Beberapa elemen RMS yang dianggap penting ditahan di kantor Densus 88 Anti Teror[3].


Republik Maluku Selatan dari Masa ke Masa

Rabu, 12 Mei 2004 | 21:58 WIB

27 Desember 1949: Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, waktu itu Republik Indonesia Serikat (RIS). Kemudian, RIS membentuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Tapi, tentara KNIL asal Ambon tidak bersedia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia sebagai pasukan inti APRIS. 

25 April 1950: Republik Maluku Selatan (RMS) diproklamasikan orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda (diantaranya Chr. Soumokil, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu), dengan presiden Dr. Chr. R. S. Soumokil -bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur. RMS bertujuan menjadi negara sendiri lepas dari Negara Indonesia Timur. Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. Leimena. 

13 Juli 1950: Konferensi Maluku di Semarang, dan para politikus asal Ambon minta pengiriman misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal. Akhirnya, pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.A Kawilarang. 

14 Juli 1950: Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah. 

18 November 1950: Kota Ambon dikuasai APRIS. Soumokil menyelamatkan diri. Sisa-sisa RMS melarikan diri ke hutan dan untuk beberapa tahun lamanya melakukan kegiatan perlawanan. 

18 Desember 1950: Pulau Seram dikuasai APRIS.

Februari 1951: Kabinet Belanda di Den Haag memutuskan, mengangkut sisa para serdadu Ambon di Jawa, untuk didemobilisasi di Belanda. Belanda berjanji, suatu hari mereka bisa mudik ke “Ambon yang bebas”.

21 Maret 1951: Rombongan pertama bekas prajurit Belanda asal Maluku (KNIL), bersama keluarga mereka, tiba di Rotterdam, Belanda menggunakan kapal laut. Kemudian, disusul sekitar 12 ribu dengan angkutan 14 kapal. Pemerintah Belanda memberitahukan keputusan Kabinet Belanda (Keputusan Februari 1951) yang memecat prajurit Ambon dari dinas kemiliteran KL. Menetap dan beranak pinak, jumlah orang Maluku, itu kini (2003) sekitar 45.000 jiwa.

1953: Manusama kabur dari New guinea atau Irian Barat ke Belanda. Tahun '50 an Suara di dalam masyarakat Maluku menyimpang dari masalah hak-hak militer KNIL ke realisasi dari idealisme politik RMS. 

2 Desember 1963: Soumokil tertangkap.

1964: Soumokil diadili dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahmilub.

12 April 1966: Presiden RMS, Soumokil, yang sejak 1963 dipenjara oleh pemerintah Indonesia dieksekusi. Partai kesatuan Badan Persatuan mengangkat Manusama sebagai penggantinya di tempat pengasingan. 

1966: RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda.

1970-an: Masyarakat Maluku di Belanda merasa tidak adil dan dikibuli Belanda. Mereka meluapkan emosi, melakukan serangkaian aksi kekerasan sepanjang 1970-an: mulai dari pendudukan kediaman duta besar RI di Wassenaar pada malam sebelum Soeharto tiba untuk kunjungan kenegaraan di Belanda (1970), serangan ke rumah Duta Besar RI di Wassenaar dan pembajakan kereta api di Wijster (1975-1977) yang akhirnya menelurkan persetujuan Wassenaar antara Belanda dan Indonesia mengenai pemulangan orang Maluku Belanda ke Indonesia secara sukarela, pembajakan kereta di De Punt dan penyanderaan anak sekolah di Bovensmilde (1977), sampai upaya untuk menculik Ratu Yuliana -tapi gagal. 

Menghadapi aksi-aksi RMS itu, pemerintah Belanda menggeledah tempat tinggal anggota RMS, menangkap tokoh-tokoh RMS, menghukum mereka dan membekukan asset kekayaan yang dipakai untuk mendanai gerakan itu.

1978: Parlemen Belanda menutup kasus RMS, tidak mengadakan kontak resmi di antara dua pemerintahan.

1986: Penjelasan bersama dari pemerintah Belanda dan Badan Persatuan. Perjanjian mengenai jaminan hidup untuk ‘generasi pertama’ , pengaturan fasilitas perumahan dan peluang kerja bagi mereka (orang Maluku). 

1992: Maluku Selatan menjadi anggota UNPO (Unrepresented Nations and Peoples Organisation), organisasi bangsa-bangsa dan rakyat yang tidak cukup terwakili di forum internasional, seperti PBB.

1993: Manusama menyerahkan kepemimpinan RMS kepada dokter yang telah pensiun F. Tutuhantunewa. 

1996: Manusama meninggal. 

25 April 2001: Pimpinan Eksekutif Forum Kedaulatan Maluku (FKM), Dr. Alex Manuputty, memelopori pengibaran bendera RMS pada peringatan ulang tahun proklamasi RMS, 25 April 2001, di kediamannya, kawasan Kudamati, Ambon. Akibatnya, Polda Maluku menangkap Alex pada Juni 2001, dengan tuduhan melanggar Pasal 106 KUHP dan 110 KUHP, tentang makar. 

12 Februari 2002: Umat Islam dan Kristen di Maluku, yang terlibat konflik Maluku (sejak 19 Januari 1999), menandatangani perjanjian Malino. Salah satu kesepatakan adalah menolak segala bentuk gerakan separatis, termasuk RMS. 

25 April 2002: Pada peringatan proklamasi RMS ke-51, diadakan pengibaran bendera RMS di Maluku. Akibatnya, sedikitnya 23 pengikut dan pendukung FKM ditangkap aparat keamanan. Kemudian, pendukung FKM mempraperadilankan Gubernur Maluku dan Kepala Kejaksaan Tinggi setempat lantaran penangkapan, penahanan dan pemeriksaan terhadap 15 tersangka pelaku pengibaran bendera RMS yang digerebek di beberapa lokasi di Pulau Saparua, Maluku Tengah, dianggap tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Di Den Haag, RMS memperingati hari proklamasinya di gedung olahraga Uichof dengan dihadiri sekitar 1000-2000 orang Maluku.

28 Agustus 2002: Lima belas tersangka, itu diadili, dianggap melanggar kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

22 Oktober 2002: Majelis hakim PN Ambon memvonis 2-5 tahun penjara potong tahanan terhadap 15 tersangka pendukung FKM yang mengibarkan bendera RMS, 25 April 2002.

17 Maret 2003: Pimpinan Eksekutif dan Pimpinan Yudikatif FKM, Dr.Alexander Hendriks Manuputty dan Waleruny Semuel alias Semmy, ditangkap untuk kedua kalinya oleh Polda Maluku.

25 April 2003: Sekitar 60 orang ditahan aparat keamanan di Ambon, berkaitan dengan peringatan hari ulang tahun RMS. Lantaran didapati menjahit atau mengibarkan bendera RMS yang diberi nama "Benang Raja". Dari 139 pengikut RMS yang ditangkap itu, 129 diantaranya dijadikan tersangka

28 Juni 2003: Sebanyak 39 anggota RMS yang ditahan di Kepolisian Resor Ambon sejak 25 April, dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan Nania. Mereka ditahan, karena terbukti melanggar larangan pengibaran bendera RMS. 

25 April 2004: Ratusan pendukung RMS memancangkan bendera RMS di Kudamati. Kemudian, beberapa aktifisnya diarak polisi ke Markas Polda. Lalu terjadi konflik dengan kelompok Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

4 Mei 2004: Dua pentolan gerakan sparatis RMS, Yacobus dan Matius diringkus aparat dari Polda Jawa Timur di Bandara Juanda, Surabaya.

6 Mei 2004: 11 tersangka FKM/RMS digiring ke Mabes Polri, diantaranya Sekjen FKM/RMS Moses Tuanakota, istri Alex Manuputi (nyonya Olli Manuputi) dan putri Alex (Kristina Manuputi). 


Levi Silalahi, PDAT, TNR

Selasa, 10 Juni 2008

Turning Out the Lights

Turning Out the Lights

The dangers of a bright night are becoming more apparent

Posted March 14, 2008

The night is not what it was. Once, the Earth was cast perpetually half in shadow. Man and beast slept beneath inky skies, dotted with glittering stars. Then came fire, the candle, and the light bulb, gradually drawing back the curtain of darkness and giving us unprecedented control over our lives.

Photo Gallery: Light Pollution

But a brighter world, it is becoming increasingly clear, has its drawbacks. A study released last month finding that breast cancer is nearly twice as common in brightly lit communities as in dark ones only added to a growing body of evidence that artificial light threatens not just stargazing but also public health, wildlife, and possibly even safety.

Those findings are all the more troubling considering that an estimated 30 percent of outdoor lighting—plus even some indoor lighting—is wasted. Ill-conceived, ineffective, and inefficient lighting costs the nation about $10.4 billion a year, according to Bob Gent of the International Dark-Sky Association, a nonprofit that aims to curtail light pollution, and it generates 38 million tons of carbon dioxide a year.

Motivated by such trends, more than two dozen cities worldwide will go dim on March 29 in an hourlong demonstration. At 8 p.m. local time, Atlanta's and Chicago's tallest towers, the Phoenix Suns' arena, and San Francisco's Golden Gate Bridge will join many other sites in turning off their lights. According to the World Wildlife Fund, which is organizing the event, an estimated 2.2 million Australians switched off their lights or took other action during "Earth Hour" last year in Sydney, briefly reducing that city's energy use by more than 10 percent.

A number of groups are trying to measure light pollution and assess its detrimental effects on the environment in the hope that people will reduce their own contribution to the problem. Last week, as part of an annual program called GLOBE at Night, thousands of students and amateur scientists stared up at the constellation Orion from locations across the country and reported how many of its stars they could see. No data are yet available, but in dark, rural areas, says Gent, about 2,000 stars are typically visible at night, compared with "maybe five" in a bright city square—and about 5,000 in centuries past. "One of the goals," says Steve Pompea of the National Optical Astronomy Observatory in Tucson, Ariz., "is to identify urban oases—places in our cities that are dark enough to see the sky."

People who are working while others are stargazing may face the greatest risks. Hormonal disturbances triggered by nighttime exposure to white or bluish light can disrupt circadian rhythms and fuel the growth of tumors, experiments show. Two decades of research indicate that women who work night shifts have unusually high rates of breast cancer, and some data suggest a parallel effect on male workers' prostate cancer rates. Last December, a unit of the World Health Organization deemed shift work a probable human carcinogen.

Yet light and cancer may be even more fundamentally linked. In last month's study, a team that included Richard Stevens, the University of Connecticut Health Center epidemiologist who first proposed the connection, compared satellite images of Israel at night with maps showing where cancers are most common. Its analysis suggests that 73 percent more breast cancers occur in the country's brightest communities than in its darkest.

Beaming up. Light beamed into the sky is squandered, since it's not illuminating any target. Yet many fixtures—like old-fashioned spherical streetlamps—send plenty of photons upward and outward. "If you fly into a city at night and you can see the streetlights from the airplane," says Chad Moore, leader of the National Park Service's Night Sky Program, "that light is counterproductive." As the light bounces off particles in the air, it casts a far-reaching "sky glow," he says. "We have documented light from distant cities traveling roughly 200 miles into national parks."

And while lighting is often installed in the name of safety, says Gent, it may ironically benefit criminals. A pedestrian temporarily blinded by the glow of an ATM, for instance, may be an easier target for a mugger hiding in the shadows. In fact, most light that goes directly from its source to a person's eye is worse than worthless. Such glare—from a car's high beams, a poorly aimed porch light, or even an unshielded window—inhibits night vision, paradoxically making it harder to see. That can endanger drivers, not to mention hapless deer.

College Kids and Sleep

health.usnews.com

College Kids and Sleep: 4 Tips

It's best for your grades to be a morning person, if you can

Posted June 9, 2008

Here's some unfortunate news for teenagers about to head off to college: New research being presented today at the annual meeting of the Associated Professional Sleep Societies says that a morning person is apt to get better grades than a late riser. Researchers surveyed 824 college students enrolled in psychology classes about their sleep habits and daily functioning. Result: The better performers were not the ones who stayed up until the wee hours and slept till afternoon.

Teenager in pajamas yawning with alarm clock
(Jupiter Images)
Video: Common Sleeping Problems
Video: Common Sleeping Problems

So what to do if you hate waking up in the morning? Use the summer to develop good sleep habits, and then minimize the damage come fall.

Be consistent. "The most important thing is try to maintain a consistent wake and bedtime in the summer," suggests Daniel Taylor, assistant professor at the University of North Texas and one of the study's authors. He'd advise going to bed most nights between 11 p.m. and midnight. If you do start turning in and getting up later once you're at school, continue to be as regular as possible, says Ana Allen Gomes, a professor at the University of Aveiro in Portugal, who has researched college students' sleeping patterns.

Become a morning person. At least two to three weeks before the semester starts, start training yourself. "The best way to do it is to wake yourself up successively earlier every few days, and get out in the sunlight ," says Taylor. The sunlight helps reset your internal clock.

Schedule classes with care. "A lot of kids turn into evening types when they go to college," Taylor says. So don't pick 8 a.m. classes just because you're used to waking up early for high school.

Compensate. If you're just not able to become an early riser, and do end up with early classes, plan some study time in the afternoon, when you're less likely to be tired, Gomes suggests. And avoid studying all night so that you're not exhausted in the morning.

Phone 3G: Hits and misses

www.tech.yahoo.com

Phone 3G: Hits and misses

Mon Jun 9, 2008 5:28PM EDT

See Comments (104)

Buzz up!on Yahoo!

As expected, we got 3G, GPS, and lower prices. But some of the most exciting iPhone rumors—such as videoconferencing and additional iPhone models—failed to materialize. Also: Details on rate plans, contracts, and battery life.

First of all, let's talk turkey—specifically, the $299 price tag for the 16GB model and $199 for the 8GB version. Now, in a moment, you're going to find me grousing about what's missing in the new iPhone, but from the feedback I'm getting so far, people are thrilled about the lower prices. While $199 isn't exactly cheap for a phone, it's a bargain when you consider the features packed into the iPhone 3G. Expect lines around the block when it goes on sale July 11.

That said, AT&T just announced that the data plan for the iPhone 3G will run you $30 a month, a $10 premium over the original's EDGE-only plan, so keep that in mind while you're calculating your savings. And yes, you'll need to sign a new two-year contract with AT&T, even if you're a current subscriber.

Anyway, the iPhone looks pretty much like the iPhone of old—and while Jobs crowed that the new iPhone is thinner "at the edges" than the original, the iPhone 3G is, in fact, about 0.02 inches thicker than its predecessor. That said, according to the specs, the new iPhone is about 0.1 ounce lighter than the EDGE-only model.

About the glossy black (or white) backing … I'm not thrilled about it. The beauty of the old brushed-metal finish was that it was practically impervious to scratches—indeed, my old iPhone, which I bought last June and lives sans case in my pocket, has nary a scratch on the back. We'll have to wait and see how the new glossy backing holds up, but I'm not optimistic.

On the 3G front: Yes, the new iPhone will access data twice as quickly (at least) over AT&T's speedy HSDPA network than the original did over EDGE. Another advantage: You'll be able to browse and access data when you're on a voice call, even if you're not in Wi-Fi range.

But one of the chief advantages of 3G is that it's fast enough for music and video—though for now, there's no word on whether we'll be able to download songs, podcasts, or videos from iTunes over AT&T's 3G network. Still, that could change with a future firmware upgrade.

In terms of battery life, Steve Jobs is promising an acceptable 5 hours of talk time using 3G (which allows for simultaneous calls and data use, compared to voice-only over EDGE), along with 7 hours of video and 24 hours of music. In my experience, real-world battery life is almost always less than what they tell you in the specs, but I'll give Apple the benefit of the doubt. Of course, the battery is still sealed in the iPhone case—a major bone of contention for many users.

GPS-wise, I'm excited. Live tracking of your position on the iPhone looks awesome—watch out, Garmin—and you'll also be able to tag your photos with GPS coordinates. Oh, and Loopt has already announced a social-networking app that'll use GPS to pinpoint your nearest buddies. Finally, Jobs said that the iPhone turns GPS off automatically when it's not in use so as not to drain the battery. Nice.

As for rumors that didn't quite come true, take videoconferencing, which was the hot topic over the weekend thanks to a slew of (clearly faked) fuzzy photos. The thought was that the new iPhone would have a front-facing camera for video-enabled iChat, but no dice.

Another rumor: Wireless music and video syncing with iTunes, similar to what the Zune does with its PC software. Prying eyes thought they found hidden Mac OS code that would make wireless iTunes syncing a reality. Guess not.

And as far as a range of iPhone models goes, well ... as I predicted, Jobs is keeping it simple: 8GB and 16GB versions—no 32GB model, which is particularly disappointing—in black and white flavors. No "thin," EDGE-only iPhone, as some thought, and notably, it appears the original EDGE-only iPhone has been purged from the Apple Store. That said, the original iPod eventually spawned a whole range of iPod Nanos, Videos, Touches, and what have you, so we may see the same thing happen with the iPhone eventually.

And speaking of the iPod Touch ... no new models or prices. You'll be able to download the new 2.0 firmware to the Touch for $9.95, but that's about it.

On the services side, I'm pleased with the upcoming MobileMe, the revamped version of .Mac, which will now allow for push, over-the-air syncing of contacts from Address Book, events from iCal, e-mail and photos with the iPhone—and yes, Outlook users on Windows are included. Yes, MobileMe is still $99 a year—but that comes out to a little over eight bucks a month, not bad considering the 20GB of online storage (twice as much as you got with the old .Mac).

And let's not forget the App Store, which is coming in early July. We saw just a handful of games and applications during the keynote, but I'm excited already—especially with the games, which look amazingly polished for something on a cell phone. I'm expecting office suites, multimedia applications, IM, and social networking apps ... you name it. This'll be huge.

And one more thing ... there was no "one more thing" in Steve Jobs' keynote, dashing the hopes of those looking for a Mac tablet or redesigned MacBooks. This marks the second major keynote in a row where "one more thing" was nowhere in sight (three if you count the iPhone SDK roadmap address in March). Interesting.